Cendana atau Santalum album Pohon Aroma Primadona

Cendana atau Santalum album merupakan pohon yang yang jadi primadona lantaran aroma wangi dan harum yang khas. Kayu cendana dan minyak cendana yang dihasilkan dari pohon ini yang kemudian menjadikan harga pohon ini sangat mahal.

Pohon cendana pada abad ke-15 menjadi daya tarik bagi bangsa Eropa untuk memburunya di Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya pulau Sumba. Konon karena pohon cendana inilah pulau sumba kemudian mendapatkan julukan sebagai Sandalwood Island. Pohon cendana pula yang kemudian ditetapkan sebagai flora identitas provinsiNTT. Sayangnya pohon cendana saat ini mulai langka, IUCN Redlist pun memasukkannya sebagai spesies vulnerable.

Pohon cendana di beberapa daerah di Indonesia dikenal sebagai Candana (Minangkabau) Tindana, Sindana (Dayak), Candana (Sunda), Candana, Candani (Jawa), Candhana, Candhana lakek (Madura), Candana (BeIitung), Ai nitu, Dana (Sumbawa), Kayu ata (FIores), Sundana (Sangir), Sondana (Sulawesi Utara), Ayu luhi (Gorontalo), Candana (Makasar), Ai nituk (Roti), Hau meni, Ai kamelin (Timor), Kamenir (Wetar), dan Maoni (Kisar). Dalam bahasa Inggris, tumbuhan cendana disebut sebagai Sandalwood. Sedangkan dalam bahasa latin nama ilmiah tumbuhan ini adalah Santalum album.

Daun dan bunga cendana (Santalum album)

Daun dan bunga cendana (Santalum album). gambar: commons.wikimedia.org

Diskripsi dan Persebaran. Cendana (Santalum album) memiliki batang berukuran kecil hingga sedang dengan diameter mencapai 40 cm dan tinggi mencapai 20 meter, dan kerap menggugurkan daun. Batangnya bulat agak berlekuk-lekuk. Tajuk pohonnya ramping atau melebar. Kulitnya kasar dan berwarna cokelat tua. Batang yang sudah tua berbau harum.

Daun cendana tunggal, berhadapan dengan bentuk elips dan tepi daun yang rata. Ujung daun runcing meskipun terkadang membulat. Akar cendana tanpa banir. Cendana memiliki perbungaan yang terminal atau eksiler yang tumbuh di ujung dan ketiak daun. Cendana memiliki buah batu berbentuk bulat yang berwarna hitam saat masak.

Cendana tumbuh di tanah yang panas dan kering terutama di tanah yang banyak kapurnya pada ketinggian hingga 1.200 m dpl. Cendana merupakan tumbuhanhemiparasit (setengah parasit) yaitu bersifat parasit hanya dalam sebagian tahap perkembangannya. Pada awal masa pertumbuhannya kecambah pohon cendana membutuhkan pohon inang untuk mendukung pertumbuhannya. Karena prasyarat inilah cendana sukar dikembangbiakkan atau dibudidayakan.

Pohon cendana dipercaya merupakan pohon asli Indonesia yang tersebar secara alami Larantuka (Flores Timur), Adonara, Solor, Lomblen, Alor, Pantar, Rote, Timor Barat, Sumba, dan Wetar. Saat ini pohon cendana tersebar ke berbagai pulau di Indonesia termasuk Jawa, Sulawesi, dan Maluku. Bahkan hingga di beberapa negara seperti India, China, dan Filipina.

Pohon Cendana (Santalum album)

Pohon cendana (Santalum album). gambar: www.arkive.org

Pemanfaatan. Pohon cendana dimanfaatkan terutama sebagai penghasil kayu cendana dan minyak cendana. Minyak dan kayu cendana umumnya digunakan sebagai wewangian pada dupa, kosmetik, parfum dan sabun. Kayunya pun dapat dijadikan bahan ukiran yang indah sekaligus menebarkan aroma harum.

Selain itu, pohon cendana kerap kali dimanfaatkan juga sebagai bumbu makanan dan minuman, aromaterapi, dan obat tradisional. Cendana memiliki sifat antiplogistik (anti-inflamasi), antiseptik, antispasmodik, karminatif, astringen, diuretik, emolien, ekspektoran, relaksan dan tonik.

Menilik kemanfaatan pohon cendana dan daerah sebarannya yang asli Nusa Tenggara Timur tersebut tidak berlebihan jika kemudian tumbuhan ini dinobatkan sebagai flora identitas (maskot) provinsi Nusa Tenggara Timur.

Konservasi. Berbagai kemanfaatan dan kegunaan kayu dan minyak cendana menjadikannya sebagai primadona sejak abad ke-15 silam. Pada masa penjajahan Belanda, seluruh pohon cendana diberi cap sebagai milik pemerintah Belanda. Bahkan peraturan ini berlanjut saat Indonesia merdeka hingga tahun 1980-an. Di mana hasil penjualan cendana harus disetorkan kepada pemerintah Indonesia dan pemiliknya hanya mendapatkan bagian 15% dari hasil penjualan tersebut. Kebijakan ini yang kemudian membuat rakyat enggan untuk menanam pohon cendana sehingga cendana mulai langka.

Penyebab kelangkaan pohon cendana lainnya adalah penebangan dan eksploitasi besar-besaran yang tidak diimbangi dengan pembudidayaan yang baik. Apalagi dengan karakteristiknya sebagai pohon hemiparasit sehingga sukar dibudidayakan.

Menurut data Dinas Kehutanan Kabupaten Timor Tengah Utara, pada tahun 2012 ini tercatat hanya terdapat 45.428 pohon saja di kabupaten tersebut. Jauh menurun dibandingkan pada tahun 1980-an dimana jumlahnya tidak terhitung.

Melihat keberadaan pohon cendana yang mulai langka itu tidak berlebihan jika kemudianIUCN Redlist memasukkannya sebagai spesies vulnerable (rentan) yang berarti sedang menghadapi risiko kepunahan di alam liar pada waktu yang akan datang jika tidak ada tindakan penyelamatan yang serius.

Semoga saja, pohon cendana Sang Flora Identitas Nusa Tenggara Timur yang beraroma wangi dan harum ini akan tetap lestari dan menjadi primadona.

Klasifikasi ilmiah: Kerajaan: Plantae. Divisi: Magnoliophyta. Kelas: Magnoliopsida. Ordo: Santalales. Famili: Santalaceae. Genus: Santalum. Spesies: Santalum album.

Referensi dan gambar:

  • www.iucnredlist.org/apps/redlist/details/31852/0
  • regional.kompas.com/read/2012/04/03/16514511/Pohon.Cendana.di.Timor.Nyaris.Punah.
  • kebunrayaenrekang.com/kayu-cendana-santalum-album/.htm
  • gambar: commons.wikimedia.org dan www.arkive.org
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday232
mod_vvisit_counterYesterday329
mod_vvisit_counterThis week232
mod_vvisit_counterAll days1027240

We have: 1 guests, 6 bots online
Today: Oct 26, 2014