Budidaya Jagung Organik

Budidaya Jagung Organik 


UMUM 
  1. Jagung sampai saat ini masih merupakan komoditi strategis kedua setelah padi karena di beberapa daerah, jagung masih merupakan bahan makanan pokok kedua setelah beras. Jagung juga mempunyai arti penting dalam pengembangan industri di Indonesia karena bahan baku untuk industri pangan maupun industri pakan ternak khusus pakan ayam. Dengan semakin berkembangan industri pengolahan pangan di Indonesia maka kebutuhan akan jagung akan semakin meningkat pula.
  2. Untuk keberhasilan budidaya jagung perlu secara terus menerus dilakukan perbaikan teknologi dan manajemen pengelolaan, terutama dengan penerapan teknologi inovatif yang lebih berdaya saing [produktif, efisien dan berkualitas] sehingga dapat menghasilkan produksi jagung sebesar 7-10 ton/ha, namun tetap berpedoman pada prinsip-prinsip kelestarian alam, dan tentu saja yang paling penting bertanam dengan hati
Selamat Mencoba  :) 
Persyaratan Tumbuh

Tanaman Jagung memerlukan curah hujan ideal sekitar 85-200 mm/bulan dan merata, sinar matahari cukup, dengan suhu optimum antara 23.30oC, ketinggian antara 1000-1800 mdpl (optimum antara 50-600 mdpl).

Jagung sebaiknya ditanam pada awal musim hujan atau menjelang musim kemarau. Jagung tidak memerlukan persyaratan tanah khusus, namun tanah yang gembur, subur dan kaya humus akan berproduksi optimal. pH tanah yang diinginkan antara 5,6-7,5. Aerasi dan ketersediaan air baik, fase pembungaan dan pengisian biji, tanaman jagung perlu mendapatkan cukup air. Kemiringan tanah kurang dari 8%. Daerah dengan tingkat kemiringan lebih dari 8%, perlu pembuatan terasering.

Penyiapan dan Pengolahan Lahan

  1. Lahan dibersihkan dari sisa tanaman sebelumnya, sisa tanaman yang cukup banyak dapat dibuat pupuk organik/dikomposkan dicampur dengan pupuk kandang diolah dengan menggunakan Ragi Kompos dan dikembalikan lagi ke lahan. Tanah yang akan ditanami dicangkul/dibajak sedalam 15-20 cm, kemudian diratakan. Setiap 3 m dibuat saluran drainase sepanjang barisan tanaman. Lebar saluran 25-30 cm, kedalaman 20 cm. Saluran ini dibuat terutama pada tanah yang drainasenya jelek. Pada lahan dengan pH kurang dari 5, tanah dikapur (dolomit dosis 300 kg/ha) dengan cara menyebar kapur/dolomit merata/pada calon barisan tanaman yang nanti akan ditanami } satu bulan sebelum tanam.
  2. Cara penyiapan lahan sangat bergantung pada fisik tanah seperti tekstur tanah. Tanah bertekstur berat perlu pengolahan intensif. Sebaliknya, tanah bertekstur ringan sampai sedang dapat disiapkan dengan teknik olah tanah konservasi seperti olah tanah minimum [OTM] atau TOT [Tanpa Olah Tanah]. Keuntungan penyiapan lahan dengan teknik olah tanah konservasi adalah dapat memajukan waktu tanam, menghemat tenaga kerja, mengurangi pemakaian bahan bakar untuk mengolah tanah dengan traktor, mengurangi erosi, dan meningkatkan kandungan air tanah. Budidaya jagung dengan teknik penyiapan lahan konservasi dapat berhasil baik pada tanah bertekstur ringan sampai sedang dan ditunjang oleh drainase yang baik. Pada tanah bertekstur ringan, sedang dan berat, penyiapan lahan dengan sistem TOT dan gulma disemprot dengan herbisida berbahan aktif glifosat sebanyak 3 lt/ha.

Verietas :
  1. Diantara komponen teknologi Pertanian Organik, varietas unggul mempunyai peran penting dalam peningkatan produksi jagung. Perannya menonjol dalam potensi hasil per satuan luas, komponen pengendalian hama/penyakit [toleran], kesesuaian terhadap lingkungan, dan selera konsumen.
  2. Kini telah banyak benih varietas unggul jagung yang dipasarkan. Dari segi jenisnya, dikenal dua jenis jagung yakni hibrida dan komposit [bersari bebas]. Dibanding jenis komposit, jagung hibrida umumnya mempunyai kelebihan dalam hal potensi hasil yang lebih tinggi dan pertumbuhan tanaman lebih seragam. Meskipun potensi hasilnya lebih rendah dibanding hibrida, jagung komposit unggul dapat mencapai potensi produksi 7.6-8,4 ton/ha, selain mempunyai kelebihan produksi benihnya dapat dilakukan dengan mudah oleh petani/kelompok tani. Beberapa varietas yang populer dewasa ini adalah Lamuru dan Sukmaraga. Varietas Lamuru relatif toleran kekeringan. Varietas Sukmaraga direkomendasikan pengembagannya pada tanah masam termasuk lahan pasang surut.
  3. Untuk lebih produktif dan berorientasi agribisnis, pengembangan jagung perlu dipadukan dengan upaya produksi biomas untuk pakan. Hal ini semakin penting artinya bagi wilayah-wilayah marginal, seperti agroekosistem lahan kering beriklim kering dan lahan sawah tadah hujan. Ada empat varieatas yang dapat menghasilkan biomas segar tinggi, pada umur 75 HST, yaitu Bima-1, Semar-10, Lamuru, dan Bisma. 
  4. Persyaratan benih yang baik harus bermutu tinggi, baik secara genetik, fisik dan fisiologi. Benih hibryda maupun komposit (bersari bebas dapat direkomendasikan). Daya tumbuh benih lebih dari 90%. Kebutuhan benih sekitar 20-30 kg/ha. Sebelum benih ditanam, sebaiknya direndam dalam larutan air yang mengandung pupuk organik cair Nutrizim (dosis 2-4 tutup/10 liter air selama semalam).

Populasi Tanaman dan Penanaman :
  1. Salah satu upaya untuk mendapatkan hasil optimum adalah mengatur populasi tanaman. Secara umum, kepadatan tanam anjuran adalah 66.667 tanaman/ha. Keadaan ini dapat dicapai dengan jarak tanam antarbaris 75 cm, dan 20 cm dalam barisan dengan satu tanaman per rumpun, atau jarak antarbaris 40 cm dengan dua tanaman per rumpun. Bagi daerah yang kekurangan tenaga kerja, jarak tanam dalam barisan 40 cm dengan dua tanaman per lubang lebih memungkinkan. Apabila penanaman jagung bertujuan untuk produksi biji dan sekaligus untuk biomas hijauan, kepadatan yang dianjurkan adalah 200.000-300.000 tanaman/ha dengan penanaman 3-4 benih per rumpun. Pemanenan secara berkala dilakukan selama 30-45 HST untuk produksi hijauan sambil menjarangkan tanaman hingga kepadatan 66.667 tanaman/ha untuk produksi biji. Hal ini dianjurkan pada musim kemarau pada saat rumput kurang tersedia bagi ternak dan petani bermaksud menjual hijauan pakan ternak. Metode ini mendukum sistem integrasi jagung-ternak.
  2. Populasi tanaman sangat bergantung dengan varietas, lingkungan pertumbuhan, tingkat kesuburan tanah dan distribusi curah hujan/ketersediaan air. Untuk jagung hibrida pada umumnya jarak tanam yang digunakan adalah 75x25 cm [satu tanaman/lubang] pada musim hujan dan 75x20 cm [satu tanaman/lubang] pada musim kemarau. Jarak tanam jagung juga disesuaikan dengan umur panennya, semakin panjang umurnya jarak tanam akan semakin lebar.
  3. Pada MK2 [Musim Kemarau 2] dengan periode tumbuh yang relatif singkat, yang lebih banyak ditanam adalah jagung bersari bebas [komposit] dengan umur genjah [contoh: Gumarang]. Jarak tanam tersebut dapat lebih dirapatkan yakni 70x20 cm [satu tanaman/lubang].
  4. Buat lubang tanam dengan tugal sedalam 5 cm. Masukkan benih ke dalam lubang tanam dan tutup dengan pupuk kandang yang matang [telah diolah dengan Ragi Kompos].
Pemupukan:


Perkembangan penanaman jagung hibrida semakin lama, semakin luas. Namun demikian kecenderungan petani menggunakan pupuk urea lebih banyak dari yang direkomendasi. Karena itu sudah selayaknya jumlah pupuk yang digunakan oleh para petani harus berdasarkan jumlah pupuk yang diperlukan tanaman untuk mencapai hasil sesuai potensi hasil varietas yang digunakan. Varietas dengan potensi hasil yang rendah (berumur genjah) kebutuhan pupuknya akan lebih sedikit dibandingkan dengan jenis hibrida ataupun bersari bebas dengan potensi hasil yang tinggi.


Keberadaan teknologi Klinik Pertanian Indonesia berupaya menjawab untuk dapat meningkatkan budidaya jagung dengan berorientasi akrab lingkungan/organik.


Kebutuhan Pupuk Anorganik [20-50% dari rekomendasi setempat, rekomendasi bisa diperoleh dari Penyuluh Pertanian atau Mantri Pertanian setempat]:

  1. Pemberian pupuk dasar dan pupuk susulan 1 diberikan dalam lubang/larikan } 10 cm dari lubang tanam kedalaman lubang } 10 cm, ditutup dengan tanah atau kompos/pupuk kandang
  2. Pemberian dolomit diperlukan jika diketahui pH tanah kurang dari 5.
  3. Pemberian pupuk susulan 2 . 4 dilakukan dengan cara semprot merata ke tanaman dengan terlebih dahulu dicampur pupuk organik cair Nutrizim.
  4. Jika tidak ada pupuk Za dapat digantikan pupuk urea dalam jumlah sama.
  5. Jika hanya menggunakan NPK, maka diperlukan total sebanyak 250 kg.
Kebutuhan Saprodi Formula Organik :


Profil Produk dapat diliat di, silahkan klik atau catat/copy-paste dan tuliskan dalam browser Anda :




Petunjuk Aplikasi Saprodi Formula Organik :


  1. Pemberian pupuk dasar berupa kompos/biomas yang telah didekomposisi dengan ragi kompos [teknik pengomposan diuraikan tersendiri] sebanyak 500 kg/ha, campur rata dengan pupuk dasar kimia diberikan bersamaan pada saat olah tanah, atau dapat diberikan dalam lubang/larikan } 10 cm, disamping tanaman ditutup dengan tanah.
  2. Pemberian pupuk dasar dengan teknik kocoran dari ramuan ragi kompos dan Nutrizim Pasta Multiguna. Ramuan tersebut adalah sebagai berikut:
    1. Sediakan drum plastik volume 200 ltr, masukan 100 gr Ragi kompos + 500 gr Nutrizim Pasta Multiguna campur dalam 200 liter air, aduk merata.
    2. Siram pada lubang tanam dan lubang/larikan yang berisi pupuk kimia. Campuran 200 liter air tersebut dapat digunakan untuk lahan seluas 2000 m2.
  3. Pemberian pupuk susulan melalui teknik semprot menggunakan tangki sprayer [} 15 liter]. Setidaknya diperlukan 20 tangki untuk lahan seluas 1 hektar, untuk setiap aplikasi penyemprotan.
  4. Waktu penyemprotan dan dosis [dalam tangki volume } 15 liter] adalah: 
    1. Susulan 1 [15 HST]: } 2 sendok makan [50 gram] urea + 2 tutup [20 cc] pupuk organik cair Nutrizim + 10 cc 4 Plus! 
    2. Susulan 2 [25 HST]: } 2 sendok makan [50 gram] urea + 3 tutup [30 cc] pupuk organik cair Nutrizim + 10 cc 4 Plus! 
    3. Susulan 3 [35 HST]: } 2 sendok makan [50 gram] urea + 3 tutup [30 cc] pupuk organik cair Nutrizim + 1 tutup [10 cc] Nutrizim Perangsang Tumbuh + 10 cc 4 Plus! 
    4. Susulan 4 [45 HST]: } 2 sendok makan [50 gram] urea + 4 tutup [40 cc] pupuk organik cair Nutrizim + 1 tutup [10 cc] Nutrizim Perangsang Tumbuh + 10 cc 4 Plus! 
  5. 4Plus adalah perekat . perata . penembus dan pembawa diberikan mengingat kondisi cuaca dewasa ini yang tidak menentu/cenderung tidak bisa diprediksi, dengan dosis 10 cc [1 tutup] untuk 15 liter air [1 tangki sprayer]. 6. Penting untuk dapat dikonsultasikan dengan Pengelola Klinik Pertanian ataupun Relawan Tani agar dapat diaplikasikan teknologi Klinik Pertanian Indonesia sesuai dengan kearifan lokal, potensi sumberdaya, berikut teknis pelaksanaannya.
Penjarangan dan Penyulaman Tanaman yang tumbuhnya paling tidak baik, dipotong dengan pisau atau gunting tajam tepat di atas permukaan tanah.


Pencabutan tanaman secara langsung tidak boleh dilakukan, karena akan melukai akar tanaman lain yang akan dibiarkan tumbuh.


Penyulaman bertujuan untuk mengganti benih yang tidak tumbuh/mati, dilakukan 7-10 hari sesudah tanam (HST). Jumlah dan jenis benih serta perlakuan dalam penyulaman sama dengan sewaktu penanaman.


Penyiangan dan Pembubunan :


  1. Penyiangan dilakukan 2 minggu sekali. Penyiangan pada tanaman jagung yang masih muda dapat dengan tangan atau cangkul kecil, garpu dll. Penyiangan jangan sampai mengganggu perakaran tanaman yang pada umur tersebut masih belum cukup kuat mencengkeram tanah maka dilakukan setelah tanaman berumur 15 hari. Penyiangan kedua dilakukan pada umur 28-30 HST, sebelum pemupukan.
  2. Pembumbunan dilakukan bersamaan dengan penyiangan untuk memperkokoh posisi batang agar tanaman tidak mudah rebah dan menutup akar yang bermunculan di atas permukaan tanah karena adanya aerasi. Dilakukan saat tanaman berumur 6 minggu, bersamaan dengan waktu pemupukan. Tanah di sebelah kanan dan kiri barisan tanaman diuruk dengan cangkul, kemudian ditimbun di barisan tanaman. Dengan cara ini akan terbentuk guludan yang memanjang.


Pengairan


Setelah benih ditanam, dilakukan penyiraman secukupnya, kecuali bila tanah telah lembab, tujuannya menjaga agar tanaman tidak layu. Namun menjelang tanaman berbunga, air yang diperlukan lebih besar sehingga perlu dialirkan air pada parit-parit di antara bumbunan tanaman jagung. Selengkapnya untuk jadual pengairan adalah saat sebelum tanam, 15 HST, 30 HST, 45 HST, 75 HST [6 kali pemberian].


Sumber air dapat dari irigasi permukaan atau tanah dangkal [sumur pompa]. Pengendalian Hama dan Penyakit Pengendalian penyakit bulai dapat dilakukan dengan: Benih jagung 1 kg dicampur 2 gr Ridomil atau Saromil yang dilarutkan dalam 7.5-10ml air.



Hama 


Lalat bibit (Atherigona sp) 


Gejala
daun muda yang masih menggulung layu karena pangkalnya tergerek larva, daun berubah warna menjadi kekuningan, bagian yang terserang mengalami pembusukan, akhirnya tanaman menjadi layu, pertumbuhan tanaman menjadi kerdil atau mati. 


Penyebab: lalat bibit dengan ciri-ciri warna lalat abu-abu, warna punggung kuning kehijauan bergaris, warna perut coklat kekuningan, warna telur putih mutiara, dan panjang lalat 3-3,5 mm.


Pengendalian:


(1) penanaman serentak dan penerapan pergiliran tanaman.
(2) menyebar mulsa jerami padi merata sebanyak 5 ton/ha setelah tanam jagung.
(3) semprot dengan pestisida organik PessO Plus! dosis 20 cc [2 tutup] per tangki } 15 liter.


Ulat Pemotong


Gejala
tanaman terpotong beberapa cm diatas permukaan tanah, ditandai dengan bekas gigitan pada batangnya, akibatnya tanaman yang masih muda roboh. 


Penyebab: beberapa jenis ulat pemotong: Agrotis ipsilonSpodoptera litura, penggerek batang jagung (Ostrinia furnacalis), dan penggerek buah jagung (Helicoverpa armigera).


Pengendalian:


(1) Tanam serentak atau pergiliran tanaman;
(2) cari dan bunuh ulat-ulat tersebut (biasanya terdapat di dalam tanah);
(3) semprot dengan biopestisida PONOMU atau pestisida organik PessO plus!


Penyakit


a. Penyakit Bulai (Downy mildew)


Penyebab
cendawan Peronosclerospora maydis dan P. javanica serta P. philippinensis, merajalela pada suhu udara 27 derajat Celcius ke atas serta keadaan udara lembab.


Gejala:
  1. umur 2-3 minggu daun runcing, kecil, kaku, pertumbuhan batang terhambat, warna menguning, sisi bawah daun terdapat lapisan spora cendawan warna putih; 
  2. umur 3-5 minggu mengalami gangguan pertumbuhan, daun berubah warna dari bagian pangkal daun, tongkol berubah bentuk dan isi; 
  3. pada tanaman dewasa, terdapat garis-garis kecoklatan pada daun tua. 
Pengendalian:
  1. penanaman serentak; 
  2. periode bebas tanaman jagung/pola pergiliran tanaman, penanaman varietas tahan bulai seperti, Lagaligo, Surya, Bisi-4, Pioner (P-4,P-5,P-9,P-10,P-12); 
  3. Preventif diawal tanam dengan kocoran Ragi Kompos dan Nutrizim Pasta Multiguna. 


b. Penyakit bercak daun (Leaf bligh


Penyebab: cendawan Helminthosporium turcicum.


Gejala
pada daun tampak bercak memanjang dan teratur berwarna kuning dan dikelilingi warna coklat, bercak berkembang dan meluas dari ujung daun hingga ke pangkal daun, semula bercak tampak basah, kemudian berubah warna menjadi coklat kekuning-kuningan, kemudian berubah menjadi coklat tua. Akhirnya seluruh permukaan daun berwarna coklat.


Pengendalian:
(1) pergiliran tanaman.
(2) mengatur kondisi lahan tidak lembab;
(3) Preventif diawal tanam dengan kocoran Ragi Kompos dan Nutrizim Pasta Multiguna.


c. Penyakit karat (Rust)


Penyebab: cendawan Puccinia sorghi Schw dan P. polypora Underw.


Gejala: pada tanaman dewasa, daun tua terdapat titik-titik noda berwarna merah kecoklatan seperti karat serta terdapat serbuk berwarna kuning kecoklatan, serbuk cendawan ini berkembang dan memanjang.


Pengendalian:


(1) mengatur kelembaban;
(2) menanam varietas tahan terhadap penyakit;
(3) sanitasi kebun;
(4) Preventif diawal tanam dengan kocoran Ragi Kompos dan Nutrizim Pasta Multiguna.


d. Penyakit busuk tongkol dan busuk biji


Penyebab
cendawan Fusarium atau Gibberella antara lain Gibberella zeae (Schw), Gibberella fujikuroi (Schw),Gibberella moniliforme.


Gejala :
dapat diketahui setelah membuka pembungkus tongkol, biji-biji jagung berwarna merah jambu atau merah kecoklatan kemudian berubah menjadi warna coklat sawo matang.


Pengendalian:
(1) menanam jagung varietas tahan, pergiliran tanam, mengatur jarak tanam, perlakuan benih;
(2) (3) Preventif diawal tanam dengan kocoran Ragi Kompos dan Nutrizim Pasta Multiguna.


Catatan : Jika pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata Penembus dan Pembawa 4Plus! dosis 10 cc 1 tutup/tangki } 15 liter air.


Panen dan Pasca Panen


  1. Panen dilakukan pada saat biji telah masak fisiologis yang ditandai oleh adanya black layer pada biji. Panen merupakan tahap awal yang penting dari seluruh rangkaian penanganan pasca panen jagung, karena berpengaruh terhadap jumlah dan mutu hasil. Panen terlalu awal menyebabkan jumlah butir muda banyak, sehingga mutu biji dan daya simpannya rendah. Sebaliknya, terlambat panen mengakibatkan penurunan mutu dan hasil produksi.
  2. Secara umum saat panen yang tepap ditentukan oleh tingkat kemasakan biji, namun yang utama adalah berdasarkan penampilan visual, yaitu menuanya klobot atau bagian-bagian tanaman secara keseluruhan, mulai dari daun yang telah berwarna kecoklatan.
  3. Tanaman jagung untuk sayur (jagung muda, baby corn) dipanen sebelum bijinya terisi penuh (diameter tongkol 1-2 cm). Jagung untuk keperluan jagung rebus/bakar dipanen ketika matang susu, sedangkan jagung untuk beras jagung, pakan ternak, benih, tepung dll dipanen jika sudah matang fisiologis.
  4. Tanda-tanda jagung siap panen adalah: 
    1. Umur tanaman mencapai maksimum, yakni setelah pengisian biji optimum; daun menguning dan sebagian besar mulai mengering; 
    2. klobot sudah kering atau kuning; 
    3. bila klobot dibuka, biji terlihat mengkilap dan keras, bila ditekan dengan kuku tidak membekas pada biji; dan 
    4. kadar air biji 25-35%.
  5. Pemanenan dilakukan dengan cara memutar tongkol berikut kelobotnya/patahkan tangkai buah jagung. Sebelum panen, pengupasan dilakukan saat tongkol masih menempel pada batang atau setelah pemetikan selesai, agar kadar air dalam tongkol dapat diturunkan sehingga cendawan tidak tumbuh. 
  6. Pengeringan jagung dengan sinar matahari (7-8 hari) hingga kadar air 9 -11% atau dengan mesin pengering. Setelah kering dipipil dengan tangan atau alat pemipil jagung. Biji-biji jagung setelah dipipil dipisahkan dari kotoran atau apa saja yang tidak dikehendaki (sisa-sisa tongkol, biji kecil, biji pecah, biji hampa, dll). Penyortiran dilakukan untuk menghindari serangan jamur, hama gudang selama dalam penyimpanan dan menaikkan kualitas panenan.


sumber : KPI- direkomendasikan untuk Pertanian Organik 

Add comment


Security code
Refresh

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday351
mod_vvisit_counterYesterday1066
mod_vvisit_counterThis week3400
mod_vvisit_counterAll days939407

We have: 9 guests online
Today: Apr 23, 2014